Rabu, 24 September 2014

Diabetes Millitus pada Kehamilan



DIABETES MILLITUS PADA KEHAMILAN 

Oleh : Umrotul Hafidhoh 

Diabetes mellitus dalam kehamilan sering disebut diabetes mellitus gestasional. Diabetes mellitus ini mungkin hanya berlangsung selama kehamilan tetapi dapat juga berlanjut meski sudah tidak hamil lagi. Menurut penelitian sekitar 40-60 persen ibu yang mengalami diabetes mellitus pada kehamilan dapat berlanjut mengidap diabetes mellitus setelah persalinan. Sehingga sarankan agar setelah persalinan ibu dapat rutin melakukan pemeriksaan gula darah diulang secara berkala.
Faktor risiko diabetes mellitus pada kehamilan adalah riwayat keguguran berulang, pernah melahirkan bayi yang beratnya sama dengan atau melebihi 4000 g, pernah mengalami preeklamsia (keracunan kehamilan), atau pernah melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas atau bayi dengan cacat bawaan. Selain itu yang juga usia ibu hamil yang melebihi 30 tahun, riwayat diabetes mellitus dalam keluarga, serta pernah mengalami diabetes mellitus pada kehamilan sebelumnya.
Penatalaksanaan diabetes pada kehamilan sebaiknya dilakukan secara terpadu antara dokter kebidanan, penyakit dalam, ahli gizi, dan spesialis anak. Sasaran penatalaksanaan adalah mencapai kadar gula darah yang normal yaitu gula darah puasa kurang dari 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan kurang dari 120 mg/dl. Sasaran dapat dicapai dengan melakukan pengaturan makan. Bila perlu maka diberikan insulin untuk menurunkan kadar gula darah mencapai normal. Bila kadar gula darah puasa di bawah 130 mg/dl, penatalaksanaan dapat dimulai dengan perencanaan makan saja. Dalam perencanaan makan dianjurkan jumlah kalori sebesar 35 kal/kg berat badan ideal, kecuali bila penderita gemuk jumlah kalori dikurangi. Pada kehamilan biasanya perlu dipertimbangkan penambahan kalori sebanyak 300 kal. Agar janin dalam kandungan dapat tumbuh secara baik dianjurkan untuk mengkonsumsi protein sebesar 1-1,5 g.
Bila gula darah tidak dikendalikan, maka terjadi keadaan gula darah ibu hamil yang tinggi (hiperglikemia) yang dapat menimbulkan risiko pada ibu dan juga janin. Risiko pada janin dapat terjadi hambatan pertumbuhan karena timbul kelainan pada pembuluh darah ibu dan perubahan metabolik selama masa kehamilan. Sebaliknya dapat terjadi makrosomia yaitu bayi pada waktu lahir besar akibat penumpukan lemak di bawah kulit. Selain itu  meningkatnya kadar bilirubin bayi serta gangguan napas dan kelainan jantung. Pada ibu hamil diabetes mellitus yang tidak diobati dapat menimbulkan risiko terjadinya penyulit kehamilan berupa preeklamsi, cairan ketuban yang berlebihan, dan infeksi saluran kemih.
Sehingga penatalaksanaan diabetes mellitus pada kehamilan perlu dilakukan dengan baik untuk meningkatkan taraf kesehatan ibu dan bayi.

BBLR




 BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)
Oleh : SRI KARMILA

Bayi Berat Lahir Rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram dan lebih dari 1500 gram. Bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu prematur dan dismatur.
a.       Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan / neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan.
b.      Dismatur adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa kehamilan. (Sarwono. P. : 2009)
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram. (Asrining, S : 2003)
Jadi BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram dan lebih dari 1500 gram.
                                                                        
a.      Etiologi
Faktor penyebab BBLR dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1)      Faktor ibu
a)      Penyakit yaitu toksemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik, Diabetes Mellitus.
b)      Umur yaitu usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, multigravida dengan jarak persalinan terlalu dekat.
c)      Sosial ekonomi yaitu sosial ekonomi rendah.
d)     Sebab lain yaitu ibu perokok, pecandu narkoba dan pengkonsumsi alkohol.
2)      Faktor janin
a)      Hidramnion
b)      Kehamilan ganda
c)      Kelainan kromosom
3)      Faktor lingkungan
a)      Tempat tinggal di dataran tinggi
b)      Radiasi
c)      Zat racun (Arief : 2009)

Molahidatidosa

MOLAHIDATIDOSA
Oleh : Wiwik Oktarina

Menurut beberapa ahli pengertian mola hidatidosa adalah sebagai berikut :
         Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. 
    Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. 
   Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin 
   Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. 
     Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi.
  Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik, hidropik, daripada villi choriales, sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Tidak terbentuk fetus.
   Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas yang dimaksud dengan mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematous. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG).

Perdarahan Postpartum


            Nama : Yuliana


           Perdarahan Postpartum
Oleh : Yuliana

Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir). Fase dalam persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari 4 cm sampai penurunan kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks sudah membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala janin sudah tampak, kemudian dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan lahirnya bayi dan berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan postpartum terjadi setelah kala III persalinan selesai.
 Perdarahan postpartum ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat wanita jatuh ke dalam syok, ataupun merupakan perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus dan ini juga berbahaya karena akhirnya jumlah perdarahan menjadi banyak yang mengakibatkan wanita menjadi lemas dan juga jatuh dalam syok. Penyebab Perdarahan Postpartum antara lain, Atonia uteri, Retensio plasenta, Sisa plasenta, Laserasi jalan lahir, Kelainan darah.







Pemeriksaan Kehamilan (ANC)

 Pemeriksaan Kehamilan
By: Sunarti

Pemeriksaan Kehamilan merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi satu kali pada trimester  pertama, satu kali pada trimester dua, dan dua kali pada trimester ketiga.
 Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang janin. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi. Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan. Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin. Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif berjalan normal, mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
Kunjungan pemeriksaan kehamilan minimal empat kali kunjungan, yaitu satu kali pada trimester I (usia kehamilan 0 - 13 minggu), satu kali pada trimester II (usia kehamilan 14 – 27 minggu), dan dua kali pada trimester III (usia kehamilan 28 – 40 minggu).


vaksin BCG

Oleh: Widyastuti Kurniawati
Vaksin BCG
Vaksin BCG  adalah vaksin hidup dibuat dari mycobacterium bovis  yang dibiarkan selama 1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak vurulen, tetapi masih memiliki imunogenitas. Vaksin BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberculin berkaitan dengan rekasi imunitas. Tujuan pemberian vaksin BCG tidak untuk mencegah TBC tetapi mengurangi risiko TBC berat, seperti TBC meningitis dan TBC Miliar.
Vaksin BCG diberikan pada bayi umur kurang dari atau sama dengan 2 bulan. Dosis pemberian vaksin BCG untuk bayi(umur kurang dari 1 tahun) adalah 0.05 ml dan anak 0.10. Vaksin BCG diberikan melalui suntikan intrakutan didaerah insersio muskulus deltoideus kanan. Tempat pemberian vaksin BCG ini dipilih di daerah insersio muskulus deltoideus kanan karena lebih mudah (lemak subkutis tebal), ulkus yang terbentuk tidak menggangu struktur otot setempat dan sebagai tanda baku untuk keperluan diagnosis bila dibutuhkan.
Efek proteksi dari vaksin BCG terjadi 8-12 minggu setelah penyuntikan,bervariasi antara 0-80%. Hal ini mungkin karena vaksin BCG yang dipakai, lingkungan dengan mycobacterium atipik atau faktor penjamu. Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, disimpan pada suhu 2-80C,tidak boleh beku, serta vaksin BCG yang telah diencerkan harus dibuang dalam 8 jam.Vaksin BCG ulang tidak dianjurkan, efek proteksi 8-12 minggu setelah penyuntikan.  

Hydrocephalus


Susi Teguh Suryani
HYDROCEPHALUS
Hydrocephalus adalah merupakan kondisi dimana karakteristik utamanya adalah akumulasi cairan yang berlebihan dalam otak. Meskipun hydrocephalus pernah sekali dikenal sebagai ‘air di otak,’sebenarnya adalah cairan cerebrospinal atau cerebrospinal fluid (CSF) - cairan bening yang mengelilingi otak dan sumsum tulang (spinal cord). Akumulasi yang berlebihan dari CSF berakibat pada pelebaran yang abnormal dari ruang-ruang dalam otak yang disebut ventricles. Pelebaran ini menciptakan tekanan yang berpotensi membahyakan pada jaringan-jaringan otak. Jenis-jenis Hydrochepalus meliputi Congenital, acquired, communicating, non communicating, Ex-Vacuo , Normal PressureH.
 Tanda dan gejala Hydrocephalus antara lain Cephalomegaly, transparan, kulit kepala tipis, dahi yang menonjol dengan fontanelles menonjol, pandangan ke bawah, kejang-kejang, refleks tidak normal, detak jantung  dan  laju pernafasan yang melambat, Sakit kepala & muntah, kebutaan dan terus kemunduran mental dari atrofi otak dapat terjadi jika pengobatan tidak dijalankan, sutura meregang & rambut kepala tampak jarang.
Hydrocephalus dapat berhubungan dengan beberapa sebab,termasuk cacat sejak lahir, pendarahan di otak, infeksi, meningitis, tumor, atau cedera kepala. Banyak bentuk dari hydrocephalus adalah hasil dari terhambatnya cairan cerebrospinal di ventrikel (di otak bagian tengah). Pada cacat sejak lahir, kerusakan fisik dari aliran cairan ke ventrikel biasanya menyebabkan hydrocephalus. Hydrocephalus biasanya mendampingi cacat sejak lahir yang disebut spina bifida (meningomyelocele). Jika tidak diobati, mengembang dengan cepat dari bulan ke bulan dan dapat mengakibatkan bayi meninggal pada akhir tahun kedua. Jika penyumbatan CSF hanya parsial, anak bisa hidup selama beberapa tahun atau bahkan mungkin menjalani hidup normal.
Koreksi bedah adalah pengobatan hanya untuk Hydrocephalus . Biasanya, operasi tersebut terdiri dari penyisipan sebuah shunt ventriculoperitoneal (pemasangan pipa untuk memperlancar aliran cairan yang berlebih dan mengurangi  tekanan ke otak) yang mengangkut kelebihan cairan dari ventrikel lateral ke dalam rongga peritoneal. Pipa tersebut fleksible, berupa tabung plastik dengan katup satu arah.  Pipa  dipasang ke  dalam   sistem ventrikel pada otak  untuk  membelokkan aliran cairan ke bagian lain dari tubuh, sehingga cairan akan mengalir dan diabsorbsi ke dalam aliran darah.